Reflection

Suatu kali setelah hujan yang luar biasa menyenangkan menyebalkan (akibatsebenarnya pengen mandi hujan tapi malu suaranya yang berisik dan tidak bisanya saya meninggalkan kos-kosan) mereda, saya berniat pergi. Sekeluarnya dari kosan, dan saya masih sedikit kesal, saya teringat akan suatu filosofi bahwa semua hal terjadi untuk alasan yang baik. Hmmm… kalo boleh diingat-ingat lagi sebuah filosofi tentang hujan, maka hujan itu boleh turun agar keindahan pelangi dapat dinikmati oleh orang banyak pada akhirnya.

Tapi bagaimana setelah hujan yang luar biasa dan meninggalkan genangan air dimana-mana, busur berwarna-warni itu tidak terlihat? Bagaimana bila yang tampak hanyalah langit yang pucat tanpa keindahan sama sekali?

Dengan tetap menggerutu, saya pun meninggalkan kosan. Saya berjalan sampai ke tempat menunggu angkutan umum. Saat akan naik ke angkutan, tanpa diduga, saya menginjak genangan air yang tentunya membuat sepatu saya basah.

“Dasar air coklat menyebalkan,” saya menggerutu.

Kekesalan saya semakin menjadi-jadi saat angkutan saya bergerak. Angin yang bertiup kencang seakan-akan membekukan semua otot saya sehingga seakan-akan energi yang saya miliki tidak cukup untuk mensupport segala aktivitas yang dilakukan oleh otot-otot saya. Otak saya pun semakin sulit berpikir tentang esensi dari hujan ini. “Everything happens for a good reason.”

“Apa-apaan?” saya berpikir.

Sesampainya di tempat tujuan, saya turun dari angkutan. Di saat saya melihat suatu genangan air, tentunya saya melompatinya. Lalu saya melihat genangan air itu karena penasaran akan warnanya yang bening, tidak seperti genangan air coklat yang saya lihat sebelumya. Saya mendongakkan kepala saya sedikit ke belakang untuk melihat genangan air itu. Saya melihat bayangan wajah saya pada genangan itu.

“Wah, boleh juga nih ngaca disini,” gumam saya.

And then it happens.
“Kita bisa berkaca di genangan itu.”

Sering kali kita melihat hujanan masalah demi masalah dan hanya melihatnya sebagai genangan air coklat yang menyebalkan. Padahal genangan air itu menjadi coklat akibat kita “injak”. Andai saja ita mau berlaku benar terhadapnya, misalnya berkaca pada genangan itu, kita mungkin saja dapat melihat diri kita pada genangan air itu dan melakukan lompatan hidup ke arah yang lebih baik.

Alih-alih melihat hujan itu sebagai suatu permasalahan dan stress atas segala “keruwetan” yang ditimbulkan olehnya, mari kita mau melihat diri kita dan mengintrospeksi diri melalui refleksi (cerminan) dari genangan air itu. Hal ini mungkin tidak hanya bisa mengembalikan keadaan diri kita ke keadaan semula, tapi bahkan membawa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.

EVERYTHING HAPPENS FOR A GOOD REASON. Sekali lagi dengan yakin saya dapat mengatakan hal ini. Mari kita melihat suatu kondisi dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan genangan air pun tidak selalu bermaksud buruk. If only we take a closer look and see it in a different way.

Aku dan temanku (2)

Aku tersentak tiba-tiba. Aku menyadari keberadaanku yang basah akibat hujan lebat. Aku sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang yang terletak di tengah padang rumput hijau. Aku tersadar bahwa hujan telah nyaris berhenti dan hanya meninggalkan sedikit jejaknya melalui gerimis-gerimis yang turun. Aku pun bangkit dari dudukku dan membersihkan bagian belakang pakaianku yang kotor akibat tanah dan sandaran ke batang pohon basah.

Pohon itu adalah sebuah pohon yang sangat rindang. Cabang-cabangnya rendah sehingga keberadaanku saat berdiri hampir tidak terlihat. Daun-daunnya yang hijau dan gelap nyaris menyentuh tanah. Posisi pohon itu di tengah-tengah padang itu bisa dibayangkan sebagai sebuah hiasan kue ulang tahun yang berwarna hijau yang berbentuk seperti pohon rindang.
Kupandangi padang rumput di hadapanku melalui celah-celah dedaunan. Kulangkahkan kakiku ke luar “sanctuary” kecilku. Terburu-buru dan tanpa sadar langsung kutarik kakiku. Aku ragu. Kuurungkan niatku untuk berjalan ke arah padang. “Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya,” pikirku.

Aku menimbang-nimbang tindakanku. Setelah satu jam melewati waktu-waktu berpikir, akhirnya kuputuskan untuk keluar. Dengan keyakinan yang teguh aku berjalan dengan tegak sambil menyunggingkan senyuman di bibirku. Sesaat setelah langkahku yang pertama telah kulakukan dari tempat berteduh itu, senyumku melebar. “Ini tidak sesulit yang kupikirkan,” gumamku pelan.

“Dor!” sapanya mengejutkanku.

Rasa dingin merasuki tubuhku hingga ke tulang. Aku menggigil. Sambil mengumpat pelan aku mempercepat langkahku meninggalkan pohon itu. Kupaksakan kakiku tetap berjalan untuk menjauh dari asal suara yang menyapaku. Namun, ternyata aku kalah cepat. Hukum alam mengalahkanku. Aku pun menyerah dan menghentikan langkahku. “Aaaargh…,” tanpa sadar aku berteriak.

“Ada apa sih? Kok marah-marah? Emangnya aku salah apa?”

“Pake acara nanya lagi. Emangnya engkau gak ngerasa salah?”

“Loh emangnya aku salah?”

“Jadi, maksudmu aku yang salah?”

“Ya enggak gitu juga. Emangnya harus ada yang salah?”

“Bisa gak sih sebentar aja engkau gak mengganggu orang lain? Gak selamanya orang suka dengan sifatmu itu”

“Loh, jadi aku salah nih? Jangan salahin aku dong, salahin Tuhan udah ciptain aku begini.”

“Ini apa-apaan pula pake acara bawa-bawa Tuhan. Udah ah, jangan dilanjutin lagi. Daripada berdebat dan makin ngaco.”

“Ya sudah, siapa juga yang belum apa-apa udah marah-marah.”

“Aku hanya gak bisa melawan kenyataan kalau aku sedang kedinginan.”

“Saranku, larilah. Itu akan membuatmu hangat dan berharaplah aku tidak akan sanggup mengejarmu kesana.”

Kupercepat langkahku. Perlahan-lahan aku mulai berlari kecil. Aku tidak berani berlari cepat karena takut menginjak tanah berair yang akan membasahi dan mengotori kakiku. Sayup-sayup kudengar suaranya yang menyemangatiku yang semakin pelan seiring langkahku berlari. Sampai suatu saat aku tidak lagi mendengar suaranya. “Ini tidak buruk,” pikirku.

Aku berlari menembus rerumputan yang semakin pendek. Sesaat tidak ada yang aneh tentang rumput-rumput di sekitarku tetapi semakin lama aku berpikir, aku semakin menyadari kejanggalan di sekelilingku. Rumput-rumput itu begitu rapi sehingga aku tidak sedang merasa berada di padang rumput. Kuhentikan lariku dan kupejamkan mataku. Kutolehkan kepalaku ke samping untuk berusaha mendengar suara di belakangku. Aku senang saat menyadari bahwa dia tak mengikutiku. Dia pasti tak sanggup mengalahkan kecepatan lariku. Dengan tersenyum kubuka mataku dan melihat ke depan.

“Mustahil!” teriakku.

CLU
-smiles 4 u-

Aku dan Temanku

Kulihat kanan dan kiri dan yang terlihat hanyalah penjual bunga di kanan dan kiri jalan. Kuteruskan langkahku dengan pasti maju mengarah ke suatu tempat yang tak pasti. Tak kupedulikan lagi genangan-genangan air yang bertebaran di jalan seakan-akan mengancam untuk menenggelamkanku. “Hujan saja tidak kupedulikan, apalagi genangan air,” kataku dalam hati.

Kuhentikan langkahku. Mataku terpusat pada seorang gadis muda berusia kira-kira 20 tahun. Dia mengenakan celana pendek di atas lutut dan baju tanpa lengan berwarna putih. “Wajahnya manis, rambutnya bagus, posturnya menarik. Hmmm…,”gumamku.

Aku semakin terhanyut dalam lamunanku tetapi kali ini bukan untuk mengagumi paras gadis itu melainkan mengamati peristiwa di depanku. Gadis itu terburu-buru berlari ke bawah tenda pedagang kaki lima setelah turun dari angkutan umum. Dijinjit-jinjitkannya kakinya untuk menghindari air-air yang tergenang. Setelah sampai di bawah tenda, dia membuka tasnya dan mengeluarkan payung lipatnya yang bercorak bunga mawar kuning. Dengan gaya yang pasti dia melangkah menyeberang jalan raya dan dia menginjak salah satu genangan air. Dia mengumpat pelan, berlari ke sisi sebelah dan berusaha membersihkan sepatunya yang basah dan kakinya yang sedikit kotor terkena cipratan. Saat dia sedikit merunduk, seseorang menyenggol payungnya sehingga terlepas dari tangannya. Dia pun terkena guyuran gerimis yang cukup lebat. Dia mengambil payungnya dan berlari tanpa mempedulikan genangan air yang ada di jalanan. Mukanya kesal dan dia cemberut sehingga seakan-akan umurnya sudah 50 tahun.

Kupandangi gadis itu hingga tak terlihat mataku. Tiba-tiba sebuah sapaan yang akrab terdengar di telingaku dan membuyarkan lamunanku.

Apa yang sedang engkau lihat? Serius sekali sepertinya.

“Lihat apa yang telah engkau perbuat kepada gadis itu. Kasihan sekali dia.”

Masak? Emangnya apa yang terjadi padanya?”

“Dia basah dan kedinginan pastinya. “

Apakah engkau basah dan kedinginan? Aku tak melihatmu mengenakan payung atau baju tebal.

“Tidak.”

Lalu, apakah aku perlu mengasihani dirimu? Sepertinya tidak.

“Ya, itu tidak perlu.”

Lalu kenapa harus ada pengecualian buat gadis itu?

“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Sebegitu sayangnya kah engkau padaku hingga tak mau meninggalkanku sebentar saja?”

Hmm, mungkin. Apakah engkau mau aku pergi sekarang?

“Mungkin tidak. Gilakah aku menurutmu?”

Nope! Menurutmu apakah seseorang yang berjalan sendirian dan mengajak hujan ngobrol dengannya adalah orang gila? Aku tak setuju dengan pendapat itu. Bahkan aku melihat senyuman di wajahmu.

“Haha. Terima kasih telah menemaniku. Aku sudah sampai di tujuanku dan aku yakin engkau tak mampu ikut kalaupun engkau mau. Jadi sampai jumpa dan tolong doakan aku agar tidak sakit karena telah berlama-lama denganmu.”

Aku berbelok ke kanan dan masuk ke dalam suatu rumah. “Aku telah sampai,” pikirku. Satu hal yang ada dalam pemikiranku saat itu adalah bahwa aku rindu ranjang dan selimutku. Aku sangat kedinginan. Walaupun demikian, aku sadar ini adalah akibat dari keputusanku sendiri. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum sendiri dan masuk ke dalam selimutku untuk bertemu dengan temanku yang lain.

Be faithful!

Saya sedang bersedih. Bukan, ini bukan tentang saya, ini kisah tentang teman saya. Teman baik saya di masa SMA. Saya sangat mengasihi dia dan sekarang dia sedang bersedih. Bersedih sekali.

Kemarin malam, salah seorang teman SMA saya mengirim pesan singkat ke ponsel saya.

”do, kau udah tahu kalau abang si A meninggal?”

Saya kaget sekali. Saya langsung balas,”B, abangnya yang mana? Kenapa? Kapan B?”

”gak tahu juga do, aku juga baru tahu, kirain aku yang paling telat tahu”

Setelah tiba di kosan, saya langsung buka halaman facebooknya untuk konfirmasi. Ternyata sudah banyak ucapan belasungkawa dan dari halaman itu saya akhirnya tahu kalau ternyata abangnya yang pertama yang meninggal. Mereka empat bersaudara dan dia anak bungsu dan satu-satunya perempuan.

Saya menangis saat itu. Profile picturenya bahkan sudah diganti olehnya dengan foto abangnya itu. Sungguh, saya pernah mengalami kehilangan anggota keluarga dan dia pasti sedih sekali seperti saya dulu. Air mata saya pyn mengalir saat itu. Saya bingung harus melakukan apa karena saya takut membuat perasaannya semakin tidak karuan. Akhirnya, saya berdoa buatnya dan tidak menghubunginya.

Setelah itu, saya kemudian melihat statusnya. Bunyinya seperti ini,

”Like a dreams… T_T

G ad satupn yg tau apa yg akn trjdi bsok.. Smua rcana Tuhan,.. Smua yg qt punya hnyalah titipin Tuhan yg smntara,
Tba saat nya Tuhan akn mngambil smua titipinnya..
Hanya keikhlasan yang diperlukan.. :’(
Mimpi… Bgai mimpi semua…dan sgt brharap ini mmg mimpi..

Yakin bahwa Tuhan tlh mrncanakan hal yg sgt indah

T_T”

Sungguh saya tersentuh dengan kalimatnya. Saya yakin dia sangat sedih, sangat rasional untuk menyalahkan Tuhan dan dia memilih untuk percaya pada Tuhan. Saya yakin, Tuhan yang akan hibur teman saya itu. Saya yakin Tuhan yang tunjukkan jalan itu ke teman saya. Saya yakin Tuhan juga yang terus menyertai dan memelihara imannya sehingga terus bertumbuh dan semakin mengerti kehendak-Nya.

Terima kasih Tuhan

#sending-my-deepest-condolance-to-my-close-friend

CLU
-smiles 4 u-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.