Aku dan temanku (2)

Aku tersentak tiba-tiba. Aku menyadari keberadaanku yang basah akibat hujan lebat. Aku sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang yang terletak di tengah padang rumput hijau. Aku tersadar bahwa hujan telah nyaris berhenti dan hanya meninggalkan sedikit jejaknya melalui gerimis-gerimis yang turun. Aku pun bangkit dari dudukku dan membersihkan bagian belakang pakaianku yang kotor akibat tanah dan sandaran ke batang pohon basah.

Pohon itu adalah sebuah pohon yang sangat rindang. Cabang-cabangnya rendah sehingga keberadaanku saat berdiri hampir tidak terlihat. Daun-daunnya yang hijau dan gelap nyaris menyentuh tanah. Posisi pohon itu di tengah-tengah padang itu bisa dibayangkan sebagai sebuah hiasan kue ulang tahun yang berwarna hijau yang berbentuk seperti pohon rindang.
Kupandangi padang rumput di hadapanku melalui celah-celah dedaunan. Kulangkahkan kakiku ke luar “sanctuary” kecilku. Terburu-buru dan tanpa sadar langsung kutarik kakiku. Aku ragu. Kuurungkan niatku untuk berjalan ke arah padang. “Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya,” pikirku.

Aku menimbang-nimbang tindakanku. Setelah satu jam melewati waktu-waktu berpikir, akhirnya kuputuskan untuk keluar. Dengan keyakinan yang teguh aku berjalan dengan tegak sambil menyunggingkan senyuman di bibirku. Sesaat setelah langkahku yang pertama telah kulakukan dari tempat berteduh itu, senyumku melebar. “Ini tidak sesulit yang kupikirkan,” gumamku pelan.

“Dor!” sapanya mengejutkanku.

Rasa dingin merasuki tubuhku hingga ke tulang. Aku menggigil. Sambil mengumpat pelan aku mempercepat langkahku meninggalkan pohon itu. Kupaksakan kakiku tetap berjalan untuk menjauh dari asal suara yang menyapaku. Namun, ternyata aku kalah cepat. Hukum alam mengalahkanku. Aku pun menyerah dan menghentikan langkahku. “Aaaargh…,” tanpa sadar aku berteriak.

“Ada apa sih? Kok marah-marah? Emangnya aku salah apa?”

“Pake acara nanya lagi. Emangnya engkau gak ngerasa salah?”

“Loh emangnya aku salah?”

“Jadi, maksudmu aku yang salah?”

“Ya enggak gitu juga. Emangnya harus ada yang salah?”

“Bisa gak sih sebentar aja engkau gak mengganggu orang lain? Gak selamanya orang suka dengan sifatmu itu”

“Loh, jadi aku salah nih? Jangan salahin aku dong, salahin Tuhan udah ciptain aku begini.”

“Ini apa-apaan pula pake acara bawa-bawa Tuhan. Udah ah, jangan dilanjutin lagi. Daripada berdebat dan makin ngaco.”

“Ya sudah, siapa juga yang belum apa-apa udah marah-marah.”

“Aku hanya gak bisa melawan kenyataan kalau aku sedang kedinginan.”

“Saranku, larilah. Itu akan membuatmu hangat dan berharaplah aku tidak akan sanggup mengejarmu kesana.”

Kupercepat langkahku. Perlahan-lahan aku mulai berlari kecil. Aku tidak berani berlari cepat karena takut menginjak tanah berair yang akan membasahi dan mengotori kakiku. Sayup-sayup kudengar suaranya yang menyemangatiku yang semakin pelan seiring langkahku berlari. Sampai suatu saat aku tidak lagi mendengar suaranya. “Ini tidak buruk,” pikirku.

Aku berlari menembus rerumputan yang semakin pendek. Sesaat tidak ada yang aneh tentang rumput-rumput di sekitarku tetapi semakin lama aku berpikir, aku semakin menyadari kejanggalan di sekelilingku. Rumput-rumput itu begitu rapi sehingga aku tidak sedang merasa berada di padang rumput. Kuhentikan lariku dan kupejamkan mataku. Kutolehkan kepalaku ke samping untuk berusaha mendengar suara di belakangku. Aku senang saat menyadari bahwa dia tak mengikutiku. Dia pasti tak sanggup mengalahkan kecepatan lariku. Dengan tersenyum kubuka mataku dan melihat ke depan.

“Mustahil!” teriakku.

CLU
-smiles 4 u-

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.